Subnetting dan Contoh Kasus Penyelesaiannya (Kelas C)

Contoh soal IP kelas C:

IP 20.20.20.20/30, tentukan Network ID, Broadcast, Jumlah host, Netmask:

Max IP

Mencari jumlah Max IP dengan rumus 2­­­(32-n), dimana n=subnetmask

Dalam soal 2­­­(32-30) = 22 = 4

Network ID dan Broadcast

Pertama kita harus menentukan range network dimana IP tersebut berada, yaitu:

Max IP nya 4 pada byte terakhir:

20.20.20.0 – 20.20.20.3

20.20.20.4 – 20.20.20.7

20.20.20.8 – 20.20.20.11

20.20.20.12 – 20.20.20.15

20.20.20.16 – 20.20.20.19

20.20.20.20 – 20.20.20.23

20.20.20.24 – 20.20.20.27 dan seterusnya sampai dengan 20.20.20.256

Kemudian kita ambil bahwa IP 20.20.20.20 berada di range network 20.20.20.20 – 20.20.20.23

Network ID diambil dari IP terkecil dari range network yaitu 20.20.20.20, sedangkan broadcast diambil dari IP terbesarnya yaitu 20.20.20.23

Jumlah Host dan IP Host

Jumlah Host diperoleh dari Max IP dikurangi 2 (Network ID dan Broadcast)

Sehingga diperoleh 4 – 2 = 2

Oleh karena itu, IP Host yaitu: 20.20.20.21 – 20.20.20.22

Subnet Mask

Subnet Mask dihitung dari rumus 255.255.255.(255-n), n adalah Max IP sehingga diperoleh 255.255.255.(255-4) = 255.255.255.251

Praktik Membuat Kabel STRAIGHT

Kali ini penulis akan berbagi informasi bagaimana cara memasang kabel UTP (Unshielded Twisted Pair) dan Konektor RJ 45 menjadi jenis kabel straight. Alat yang digunakan, yaitu:

  1. Kabel LAN (sesuai kebutuhan)
  2. Konektor RJ 45 sebanyak 2 buah
  3. Crimping tool
  4. Tester Kabel LAN

Berikut langkah-langkahnya:

1. Siapkan kabel UTP yang akan kita buat menjadi kabel straight dan konektor RJ 45.

2. Kupas kabel UTP bagian terluar kira-kira 2 cm dengan menggunakan pisau pada crimping tool. Setelah itu akan terlihat didalamnya kabel yang berjumlah 4 pasang atau 8 buah kabel.

3. Susunlah pin kabel sesuai dengan aturan kabel straight, yaitu:

  1.     Putih-orange.
  2.     Orange.
  3.     Putih-hijau.
  4.     Biru.
  5.     Putih-biru.
  6.     Hijau.
  7.     Putih-coklat.
  8.     Coklat.

4. Setelah diurutkan dan rapi, potong ujung kabel secara bersamaan menggunakan crimping tool sehingga ujungnya nampak sejajar rata.

5. Setelah itu masukkan ujung kabel UTP ke dalam konektor RJ 45 dengan ujung per kabelnya sampai mentok di bagian dalam konektor RJ 45.

6. Masukkan konektor yang sudah menyatu dengan kabel UTP tersebut ke mulut crimping tool yang sesuai dengan konektor RJ 45. Pastikan ujung kabel menempel di konektor bagian dalam lalu tekan pangkal konektor dengan crimping tool.

A hand holding a computer mouse and keyboard

Description automatically generated

7. Pada ujung kabel UTP yang satunya, lakukan persis seperti langkah 1-6.

8. Ujikan kedua kabel straight tersebut dengan tester kabel LAN pada tester, yang satu ke induk tester dan lainnya ke anak tester.

9. Nyalakan tester kabel LAN (menggeser posisi ke on) dan klik auto.

Standard Wireless 802.11

Jenis yang paling populer dari jaringan wireless adalah berdasarkan standard 802.11 yang biasa kita sebut dengan jaringan wifi. Berikut ini beberapa standard yang digunakan:

Standard wireless-B 802.11b

  1. Memiliki frekuensi 2.4 GHz dengan kecepatan transmisi sampai 22 Mbps.
  2. Mampu mencakup area 100 m.
  3. Menggunakan modulasi DSSS (Direct Sequence Spread Spectrum).
  4. Mudah mengalami interferensi sinyal radio. Namun, hal ini dapat dihindari dengan mengatur jarak antar perangkat elektronik, seperti: microwave, televisi, dan perangkat lain yang menggunakan frekuensi 2.4 GHz.

Standard wireless 802.11a

  1. Beroperasi pada band 5 GHz dengan kecepatan transmisi sampai maksimum 54 Mbps.
  2. Namun frekuensi pembawa yang tinggi membawa kerugian mudah diserap oleh dinding dan benda padat lain di jalurnya karen panjang gelombangnya yang kecil.
  3. Mampu bekerja dengan bagus pada populasi yang padat.
  4. Tidak bisa beroperasi pada standard 802.11b/g.
  5. Metode transmisi yang digunakan adalah Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM).
  6. Range maksimum untuk indoor hanya mencapai 15 meter sedangkan outdoor mencapai 30 meter.

Standard wireless-G 802.11g

  1. Memiliki frekuensi 2.4 GHz dengan kecepatan transmisi sampai 54 Mbps.
  2. Menggunakan modulasi DSSS (Direct Sequence Spread Spectrum).Metode transmisi yang digunakan adalah Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM).
  3. Range maksimum untuk indoor hanya mencapai 45 meter sedangkan outdoor mencapai 90 meter.
  4. Jangkauan yang lebih pendek (beberapa jenis piranti wireless G dikuatkan dengan teknologi yang bisa mencakup area yang lebih luas seperti teknologi MIMO/Multiple Input Multiple Output).

Standard wireless-N 802.11n

  1. Memiliki frekuensi 2.4 GHz dengan kecepatan transmisi sampai 100 Mbps.
  2. Dengan menggunakan teknologi MIMO/Multiple Input Multiple Output bisa mencakup area 300 – 400 meter.

Standard wireless AC 802.11ac

  1. Standard ini memanfaatkan dual band yang mendukung koneksi secara bersamaan pada frekuensi 2.4 GHz dengan kecepatan transmisi mencapai 450 Mbps dan 5 GHz dengan kecepatan transmisi mencapai 1300 Mbps.
  2. Standard ini memiliki kompabilitas dengan standard 802.11b/g/n.

Standard wireless 8022.11ax

  1. Mampu mencapai kecepatan sekitar 1.4 GB/s.
  2. Mampu membagi saluran wireless menjadi beberapa sub saluran, setiap saluran ini membawa data yang ditujukan pada perangkat yang berbeda melalui Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM).

CIDR (Classles Inter-Domain Routing) dan Contoh Penerapan dalam Perhitungan Subnetting

CIDR (Classles Inter-Domain Routing) merupakan cara alternatif untuk pengklasifikasian alamat-alamat IP yang berbeda ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E. CIDR biasa juga disebut dengan supernetting. Metode ini ditujukan untuk mengalokasikan IP Address agar lebih efisien.  

CIDR merupakan mekanisme routing yang lebih efisien dibandingkan dengan cara yang asli, yakni dengan membagi alamat IP jaringan ke dalam kelas A, B, dan C. Sebab, pada sistem yang lama sering terjadi masalah yaitu meninggalkan banyak alamat IP yang tidak digunakan.

Berikut tabel CIDR.

A screenshot of a cell phone

Description automatically generated

Berikut contoh menuliskan notasi IP Address dengan metode CIDR.

IP : 192.168.23.5, Netmask : 255.255.255.0

diubah mengunakan metode CIDR menjadi

IP : 192.168.23.5/24 (penulisan dengan notasi “/” atau CIDR)

Berikut contoh penerapan CIDR dalam perhitungan subnetting yang saya cuplik dari laman website: https://kedai.or.id/konsep-cidr-dan-perhitungan-subnetting-dengan-cidr.html

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS C

Ok, sekarang mari langsung latihan saja. Subnetting seperti apa yang terjadi dengan sebuah NETWORK ADDRESS 192.168.1.0/26 ?

Analisa: 192.168.1.0 berarti kelas C dengan Subnet Mask /26 berarti 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192).

Penghitungan: Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berpusat di 4 hal, jumlah subnet, jumlah host per subnet, blok subnet, alamat host dan broadcast yang valid. Jadi kita selesaikan dengan urutan seperti itu:

  1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah Subnet adalah 22= 4 subnet
  2. Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62 host
  3. Blok Subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
  4. Bagaimana dengan alamat host dan broadcast yang valid? Kita langsung buat tabelnya. Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
Subnet192.168.1.0192.168.1.64192.168.128192.168.1.192
Host Pertama192.168.1.1192.168.1.65192.168.1.129192.168.1.193
Host Terakhir192.168.1.62192.168.1.126192.168.1.90192.168.1.254
Broadcast192.168.1.63192.168.1.127192.168.1.191192.168.1.255

 

Protokol Jaringan – Serial Line Internet Protocol (SLIP)

Protokol jaringan merupakan perangkat aturan yang digunakan untuk mengatur komunikasi di antara beberapa komputer dengan platform yang berbeda dalam suatu jaringan. Berikut akan penulis bahas tentang salah satu protokol jaringan, yaitu Serial Line Internet Protocol (SLIP).

Protokol ini memungkinkan pemindahan data IP melalui saluran telepon. Sistem ini membutuhkan satu komputer server sebagai penampungnya. Namun, secara perlahan-lahan akan digantikan oleh standar PPP (Point to Point Protocol) yang memiliki kecepatan proses lebih tinggi. Point to Point Protocol (PPP) merupakan protokol enkapsulasi paket jaringan yang sering digunakan pada jaringan WAN (Wide Area Network). Protokol ini dikembangkan sebab masalah-masalah atau kekurangan yang terjadi di Serial Line Internet Protocol yang hanya mendukung pengalamatann statis pada para kliennya. PPP memiliki kemampuan menawarkan koreksi kesalahan dan negoisasi sesi secara dinamis tanpa adanya intervensi dari pengguna.

SLIP memodifikasi standar TCP / IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol) datagram dengan menambahkan “SLIP END” karakter untuk itu, yang membedakan batas datagram dalam aliran byte. SLIP memerlukan konfigurasi port serial 8 bit data, no parity, dan either EIA hardware flow control, atau mode CLOCAL (3-wire null-modem) UART pengaturan operasi.

SLIP diperuntukkan point to point koneksi serial yang menjalankan TCP/IP dan memiliki kecepatan jalur antara 1200bps dan 19.2Kbps. SLIP bermanfaat untuk perpaduan antara host dan router untuk berkomunikasi satu sama lain baik host-host, host-router, dan router-router.

Fungsi Bridge dalam Jaringan Komputer dan Penggolongannya

Bridge merupakan perangkat yang digunakan untuk menghubungkan jaringan komputer LAN (Local Area Network) dan memiliki kelebihan dapat menghubungkan dua jaringan yang protokol lapisan fisiknya berbeda. Komunikasi terjadi pada level MAC atau data link layer model OSIOpen System Interconnection” sehingga dapat menghubungkan jaringan komputer dengan media transmisi yang berbeda.

A screenshot of a computer

Description automatically generated

Berikut ini beberapa fungsi bridge:

  1. Menghubungkan dua jaringan komputer LAN yang sama.
  2. Menghubungkan beberapa jaringan komputer yang terpisah, baik sama maupun berbeda.
  3. Menjadi router.
  4. Meng-copy frame data dari suatu jaringan lain yang masih terhubung.

Berdasarkan kelengkapan fungsi, maka bridge dapat digolongkan sebagai berikut.

1. Bridge Sederhana

Bila suatu simpul jaringan mengirimkan data ke simpul jaringan lain, maka bridge ini akan menyebarkan data ke semua jaringan.

2. Bridge Belajar

Bridge ini memiliki kemampuan memilih paket mana yang ditunjukkan pada segmen jaringan lain dan meneruskan paket pada jaringan yang sesuai.

3. Bridge dengan kemampuan routing

Memiliki kemampuan seperti sebelumnya ditambah dengan kemampuan pencarian jalan, berikut beberapa strategi yang digunakan.

a. Fixed Routing

Cara ini dibuat dengan membuat tabel yang berisi semua jalur yang mungkin terjadi antara stasiun pengirim dan penerima.

b. Penggunaan Algoritma Spanning Tree

Metode yang digunakan untuk pengoptimalan, yaitu menentukan spanning tree yang menjangkau semua titik dengan total bobot sisi minimum pada graph terhubung.

c. Source Routing

Metode yang digunakan dengan setiap stasiun yang akan mengirimkan paket harus mendefinisikan jalur yang akan dilewati.

Protokol dan Manajemen Koneksi TCP

Kali ini penulis akan sedikit mengulas terkait salah satu protokol transport internet yang digunakan untuk berkomunikasi dan bertukar data dalam sebuah jaringan, yaitu TCP (Transmission Control Protocol). TCP merupakan protokol yang berorientasi connection oriented yaitu membutuhkan koneksi sesi sebelum data dikirim. Menyinggung TCP berorientasi koneksi ini saya ulangi kembali penjelasannya, dimana penerima harus mengkonfirmasi bila menerima kiriman, pengirim melacak apa yang dikirim, dan dapat melakukan pengiriman ulang jika tidak mendapat konfirmasi.

Protokol ini secara spesifik dirancang untuk menyediakan aliran byte end to end. TCP bersifat reliable dimana data ditransfer ke tujuannya sesuai urutan ketika dikirim. Protokol dasar yang digunakan oleh entitas TCP adalah protokol jendela geser. Ketika pengirim mentransmisikan sebuah segmen juga menghidupkan timer. Saat segmen sampai di penerima, entitas TCP penerima akan mengirimkan kembali sebuah segmen yang berkaitan dengan acknowledgement. Namun, ketika timer pengirim berhenti sebelum acknowledgement diterima, maka pengirim akan mentransmisikan segmen kembali.

Semua koneksi TCP merupakan full duplex yang berarti lalu lintas dapat berjalan dua arah dalam waktu yang bersamaan. Untuk mengatasi saturasi (congestion) pada kanal komunikasi, pada header TCP dilengkapi informasi tentang flow control. Flow control yang dimiliki pengirim ini mencegah data yang terlalu banyak dikirim dalam satu waktu sehingga dapat mencegah penerima memperoleh data yang tidak dapat disangganya (buffer). Bahkan TCP juga mengimplementasikan flow control penerima yang mengindikasikan jumlah buffer yang masih tersedia dalam pihak penerima.

Entitas TCP pengirim dan penerima saling bertukar dalam bentuk segmen. Sebuah segmen header berukuran tetap 20 byte yang diikuti oleh nol atau lebih byte-byte data. Jika sebuah segmen terlalu besar bagi jaringan yang disinggahinya maka router akan memecahnya menjadi beberapa segmen. Masing-masing segmen baru tersebut akan mendapatkan TCP dan IP-header.

Karena sifatnya terbuka maka TCP bisa mengirimkan data antara sistem-sistem komputer yang berbeda yang menjalankan pada sistem-sistem operasi yang berbeda pula.

Berikut ini penjelasan singkat terkait dengan koneksi TCP.

Bila beberapa proses mendengarkan port disebut segmen TCP masuk. Proses dapat menerima atau akan dikirim balik. Berikut gambar pembentukan koneksi TCP dalam keadaan normal.

A close up of a piece of paper

Description automatically generated

Namun jika dua buah client sama-sama mencoba membentuk koneksi dalam waktu yang sama di antara dua buah socket yang sama, maka akan terjadi tabrakan panggilan seperti ditunjukkan gambar berikut.

Beberapa contoh aplikasi yang menggunakan protokol TCP:

  1. Telnet
  2. FTP (File Transfer Protocol)
  3. SMTP (Simple Mail Transfer Protocol)

Modulasi Direct Sequence Spread Spectrum dan Optimasi WiFi

Modulasi Direct Sequence Spread Spectrum

Spread Spectrum merupakan teknik pengiriman sinyal yang tahan terhadap gangguan dan mempunyai keamanan informasi yang cukup tinggi pada saat pengiriman. Sistem komunikasi spread spectrum sangat berguna untuk menekan adanya gangguan karena data yang dikirimkan bersifat acak.

Suatu sistem komunikasi diklasifikasikan sebagai “Spread Spectrum“, apabila:

  1. Energi sinyal hasil modulasi spread spectrum tersebar pada lebar pita yang jauh lebih besar dari laju bit informasi
  2. Proses demodulasi dilakukan dengan menggunakan proses korelasi antara sinyal masuk dengan replika sinyal penebar.

Salah satu teknik yang dikenal adalah Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS). Biasanya WiFi (Wireless Fidelity) yang berlabelkan 802.11b menggunakannya. Sistem ini paling banyak digunakan karena mudah untuk diterapkan dan memiliki data rate yang tinggi.

Optimasi WiFi

Berikut ini beberapa cara mengoptimalkan performa jaringan WiFi:

  1. Memaksimalkan jangkauan sinyal wifi dengan menggunakan channel yang paling rendah. Hal ini menggunakan frekuensi kecil sehingga panjang gelombang semakin jauh jangkauannya.
  2. Memindahkan channel, tiap-tiap access point memiliki frekuensi yang berbeda. Untuk wifi 2.4 GHz antar perangkat access point berbeda 5 channel.
  3. Tidak mengatur channel access point pada channel rendah karena dengan daya jangkau luas maka justru wifi rentan terhadap interferensi. Oleh karena itu, atur channel wifi pada frekuensi sesuai dengan kebutuhan saja.
A screenshot of a map

Description automatically generated

Gambar tersebut menunjukkan bahwa no 1, 6, dan 11 tidak ada garis yang bersinggungan. Hal ini menunjukkan tidak adanya interferensi.

Wireless 802.11 b/g/n dengan frekuensi 2.4 GHz memiliki 14 channel yang dapat digunakan. Kalau tidak ingin jaringan wireless kita interferensi, maka gunakanlah channel yang non-overlapping, yaitu 1, 6, 11, dan 14 pada jaringan wireless yang berbeda.

Untuk menghindari interferensi karena penggunaan channel yang sama, kita bisa melakukan survey dengan scanning frekuensi.

Men-setting interface wireless dengan band yang menggunakan lebih dari satu protokol sehingga mampu memberikan pilihan kepada client terhadap protokol mana yang support dengan perangkat client tersebut.